Link Fair: Platform Booking Wisata Lintas Negara dengan Refund AI Proaktif
Refund tiket wisata sering terasa seperti proses yang sengaja dibuat melelahkan.
Bayangkan Anda sudah membeli paket tur ke Kawah Ijen lewat platform online. Semua sudah siap: tiket, jadwal, transportasi, dan itinerary. Lalu sehari sebelum berangkat, jalur pendakian ditutup karena angin kencang. Penutupannya resmi. Datanya publik. Platform sebenarnya bisa tahu lebih dulu.
Namun yang biasanya terjadi justru sebaliknya: Anda tetap harus mengajukan komplain sendiri, mengunggah bukti, menunggu verifikasi, lalu menunggu lagi sampai uang dikembalikan.
Dari pengalaman seperti inilah Link Fair lahir.
Link Fair adalah platform cross-border e-commerce untuk layanan wisata dan transportasi yang menghubungkan wisatawan China dengan destinasi ASEAN. Untuk tahap awal, kami memilih Banyuwangi sebagai pilot destination karena daerah ini punya potensi wisata besar, tetapi masih banyak layanan lokalnya yang belum masuk ke ekosistem booking digital internasional.
Project ini kami bangun untuk 2026 China-ASEAN “AI + Cross-Border E-Commerce” Innovative Application Competition. Di dalam aplikasi, brand yang digunakan adalah Link Fair dengan nama Mandarin 惠行 / Huixing.
Masalah yang Ingin Kami Selesaikan
Ada tiga masalah utama yang menjadi dasar Link Fair.
- Pertama, proses refund di banyak OTA masih lambat, manual, dan terasa sepihak. Hampir semua platform besar punya aturan force majeure, tetapi dalam praktiknya pengguna tetap harus memulai proses klaim sendiri. Padahal untuk kasus seperti penutupan jalur wisata, cuaca ekstrem, atau pembatalan dari operator, platform seharusnya bisa mendeteksi masalah lebih awal dan membantu pengguna secara proaktif.
- Kedua, banyak transportasi lokal yang penting bagi perjalanan wisatawan justru belum bisa dipesan secara online. Di Banyuwangi, layanan seperti Lin, ojek, becak, jeep Ijen, hingga transportasi informal lainnya sangat relevan untuk wisatawan. Namun layanan-layanan ini belum mudah ditemukan di platform besar seperti Ctrip atau Klook, apalagi dengan harga dalam CNY, antarmuka Mandarin, dan metode pembayaran yang familiar bagi wisatawan China.
- Ketiga, wisata belum benar-benar inklusif. Kawah Ijen, misalnya, adalah destinasi yang luar biasa, tetapi tidak mudah diakses oleh lansia atau penyandang disabilitas. Padahal di lapangan sudah ada solusi lokal seperti Ojek Troli, yaitu jasa porter dengan gerobak dorong dari Paltuding menuju area kawah. Link Fair mencoba mengangkat layanan seperti ini menjadi produk wisata yang bisa dipesan dengan lebih jelas, aman, dan transparan.
Fitur Utama Link Fair
Link Fair memiliki dua fitur AI utama.
Fitur pertama adalah AI TourGuide, yaitu trip planner yang membantu pengguna menyusun itinerary berdasarkan preferensi mereka. Pengguna dapat memilih kategori minat seperti gunung, pantai, budaya, kuliner, religi, dan lainnya. Dari sana, AI akan menyusun rencana perjalanan multi-hari lengkap dengan alasan mengapa setiap destinasi direkomendasikan.
Setiap item dalam itinerary tidak hanya menjadi rekomendasi, tetapi juga diarahkan menjadi produk yang bisa dipesan. Harga ditampilkan dalam CNY, dan pengalaman pengguna disesuaikan untuk kebutuhan wisatawan lintas negara.
Namun kami sadar bahwa AI trip planner bukan lagi hal yang benar-benar baru. Beberapa pemain besar seperti Trip.com dan Fliggy sudah memiliki fitur serupa dengan ekosistem yang jauh lebih matang. Karena itu, AI TourGuide bukan fitur utama yang kami jadikan pembeda.
Pembeda utama Link Fair adalah FairCancel AI.
FairCancel AI dirancang untuk membuat proses refund menjadi lebih proaktif, transparan, dan cepat. Sistem menerima data insiden seperti penutupan jalur, cuaca ekstrem, atau pembatalan operator. Dari sana, AI membaca laporan insiden, mencocokkannya dengan data pesanan dan laporan pengguna, lalu menentukan apakah pengguna berhak mendapatkan refund.
Jika klaim valid, sistem menghitung persentase refund sesuai kebijakan yang berlaku dan memberikan penjelasan tertulis dalam bahasa pengguna. Untuk kebutuhan demo, target kami adalah menunjukkan skenario refund 100% yang dapat diproses dalam waktu sekitar 30 detik, bahkan sebelum pengguna perlu mengajukan komplain secara manual.
Kami juga menambahkan Refund Simulator, sehingga pengguna bisa memahami kemungkinan skenario refund sebelum melakukan pembelian. Dengan begitu, kebijakan pembatalan tidak lagi tersembunyi di halaman syarat dan ketentuan yang jarang dibaca, tetapi menjadi bagian dari pengalaman booking sejak awal.
Pendekatan Produk
Link Fair tidak dibangun hanya sebagai aplikasi wisata biasa. Fokus kami adalah membuat platform yang relevan untuk konteks China-ASEAN.
Karena target awalnya adalah wisatawan China, aplikasi ini mendukung pengalaman lintas bahasa, termasuk bahasa Indonesia, Inggris, dan Mandarin. Harga juga dapat ditampilkan dalam CNY agar pengguna lebih mudah memahami biaya perjalanan tanpa perlu menghitung konversi secara manual.
Selain destinasi populer, Link Fair juga memberi ruang bagi layanan lokal yang biasanya tidak masuk ke platform besar. Ini penting karena justru layanan seperti transportasi desa, jeep lokal, porter, dan ojek troli yang sering menentukan kualitas pengalaman wisata di lapangan.
Dengan cara ini, Link Fair tidak hanya membantu wisatawan mendapatkan pengalaman yang lebih mudah, tetapi juga membuka peluang ekonomi digital bagi pelaku layanan lokal.
Sisi Teknis
Karena waktu pengembangan untuk tahap penyisihan cukup singkat, kami memilih pendekatan web-first. MVP dibangun menggunakan Next.js, React, Tailwind CSS, TypeScript, dan di-deploy ke Vercel. Untuk autentikasi dan penyimpanan data, kami menggunakan Supabase.
Salah satu bagian penting dari sistem adalah dukungan tiga bahasa. Kami menggunakan kamus terpusat agar pengalaman pengguna tetap konsisten di bahasa Indonesia, Inggris, dan Mandarin. Untuk fitur refund, rules engine tidak langsung mengembalikan kalimat jadi, tetapi mengembalikan reasonKey. Dengan pendekatan ini, alasan refund bisa ditampilkan sesuai bahasa UI yang sedang digunakan.
Data destinasi juga tidak sepenuhnya ditulis manual. Kami membuat pipeline untuk memproses hasil scraping Google Maps. Dari sekitar 700 baris data awal, kami melakukan kurasi hingga menghasilkan 88 destinasi yang lebih relevan, lengkap dengan koordinat, rating, dan kategori.
Untuk data penerbangan, sistem terhubung dengan Duffel API di sisi server. Data seperti maskapai, harga, kabin, bagasi, dan durasi dapat ditampilkan jika tersedia. Namun jika token tidak aktif atau tidak ada penawaran yang cocok, aplikasi tetap berjalan dengan estimasi berbasis AI, tanpa membuat pengalaman pengguna terhenti.
Arsitektur AI yang Fleksibel
Salah satu keputusan teknis yang paling penting adalah membuat provider AI bisa diganti melalui environment variable. Jika AI_PROVIDER=anthropic, sistem menggunakan Claude API secara native. Jika tidak, sistem dapat menggunakan endpoint yang kompatibel dengan OpenAI.
Kami juga menyiapkan backend FastAPI terpisah yang menggunakan DeepSeek dan Google Search untuk riset rute yang lebih dalam. Namun aplikasi tetap bisa berjalan penuh meskipun API key tidak tersedia. Ini penting karena MVP harus tetap stabil saat demo, termasuk ketika integrasi eksternal gagal.
Untuk FairCancel AI, rules engine dan LLM menggunakan kontrak output yang sama. Setiap keputusan refund selalu memiliki struktur seperti refundPercent, faultParty, status, fraudRisk, dan alasan keputusan.
Versi demo menggunakan rules engine deterministik yang meniru bentuk output AI. Jika nanti ingin diganti ke model LLM penuh, kami hanya perlu mengganti satu bagian fungsi. UI tidak perlu diubah karena format jawabannya tetap sama.
Prinsip ini kami terapkan di banyak bagian sistem: integrasi boleh gagal, tetapi aplikasi tidak boleh ikut gagal. Jika AI timeout, sistem menggunakan baseline itinerary berbasis jarak geografis. Jika Duffel tidak mengembalikan data, sistem menggunakan estimasi. Jika respons AI untuk preferensi yang sama sudah pernah dibuat, sistem menggunakan cache agar tidak memanggil API berulang kali.
Simulasi yang Jujur
Beberapa bagian seperti pembayaran Alipay, feed BMKG, data Perhutani, dan verifikasi dokumen masih berupa simulasi. Namun simulasi ini kami buat dengan UI yang realistis dan kami tandai secara jelas sebagai simulated saat pitch.
Bagi kami, ini penting. Kompetisi ini menilai skenario, kelayakan, dan potensi penerapan, bukan menuntut semua integrasi production-ready sejak tahap awal. Lebih baik jujur bahwa bagian tertentu masih simulasi daripada mengklaim akurasi atau integrasi yang sebenarnya belum ada.
Pelajaran dari Project Ini
Pelajaran terbesar dari membangun Link Fair adalah bahwa riset kompetitor sangat menentukan arah produk.
Awalnya, kami ingin menjadikan AI trip planner sebagai inovasi utama. Namun setelah membandingkan Trip.com, Fliggy, Klook, dan Mafengwo, kami menyadari bahwa fitur planner sudah menjadi standar di industri travel tech. Jika kami tetap menjual planner sebagai pembeda utama, pitch kami akan terdengar terlalu umum.
Yang justru lebih kuat adalah kombinasi dari tiga hal: refund proaktif, transportasi lokal informal, dan wisata inklusif. Tiga elemen ini lahir dari masalah nyata, bukan dari teknologi yang dipaksakan untuk mencari masalah.
Pelajaran kedua adalah pentingnya mendesain kontrak sistem sejak awal. Karena struktur output FairCancel sudah dikunci dari awal, kami bisa membangun demo dengan rules engine sambil tetap membuka jalan untuk implementasi LLM di masa depan. Ini membuat pengembangan lebih cepat, stabil, dan mudah dikembangkan.
Tahap penyisihan online sudah ditutup pada 30 Juni, dan final offline dijadwalkan berlangsung pada akhir Juli di Nanning. Apa pun hasil akhirnya, membangun MVP lintas bahasa dengan AI yang tetap berjalan meskipun integrasi gagal adalah pengalaman engineering yang sangat berharga.
Link Fair bukan hanya eksperimen AI untuk travel. Bagi kami, ini adalah cara untuk membayangkan ulang bagaimana platform wisata lintas negara seharusnya bekerja: lebih proaktif, lebih transparan, lebih lokal, dan lebih manusiawi.